SLIDE1

Blogger templates

Tampilkan postingan dengan label imam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2017

Hikmah Ahlul Bait : Apa Yang Dimaksud Dengan Maksum? (bagian 1)

- Tidak ada komentar

Manusia selalu tidak lepas dari kesalahan, besar maupun kecil, disadari maupun tanpa disengaja. Apalagi jika hawa nafsu mendominasi jiwanya. 

Kita pasti pernah mendengar hadis yang berbunyi bahwa didalam manusia ada dua jenis kekuatan, potensi akal dan hawa nafsu. Barangsiapa yang mendahulukan ketaatan atau akalnya, maka kedudukannya lebih tinggi dari malaikat. namun sebaliknya, jika hawa nafsu yang didahulukan maka ia lebih rendah daripada syaitan.

Namun terdapat beberapa insan manusia yang dipercaya terbebas dari perbuatan salah dan dosa. sifat maksum ini biasanya disematkan kepada para  Nabi As atau Imam.

Kata maksum ( dalam bahasa arab berasal dari mashdar : العصمة ) bermakna terhalang. Sedangkan secara istilah para ahli teologi, maksum adalah keistimewaan dari Tuhan Swt kepada seseorang dan ia selalu senantiasa terhalang dari perbuatan dosa. Dengan makna lain, tak ada satupun potensi yang menyebabkan seseorang tersebut untuk melakukan dosa meskipun mereka mampu.

Sebagian ahli kalam bependapat bahwa kemaksuman adalah hadiah Tuhan untuk seseorang dan Dia SWT menciptakan mereka dalam keadaan bersih dari noda dosa.

Sebagian yang lain berpendapat bahwa kemaksuman merupakan keistimewaan dari Tuhan Swt yang diperuntukkan untuk insan tertentu meskipun ia memiliki potensi untuk melakukan dosa, akan tetapi ia tak pernah terbesit sedikitpun untuk melakukannya.

Dari sini kita dapat mengambil benang merah, bahwa maksum adalah sesuatu yang telah mengakar dalam jiwa seseorang, yang membuatnya terhalang untuk melakukan dosa ataupun maksiat. 

Ketakwaan seseorang yang maksum kepada Tuhan Swt lebih tinggi dari manusia biasa. mereka senantiasa taat secara mutlak, tidak pernah melakukan kesalahan dan perbuatan yang jelek. bahkan, mereka tak berpikir untuk melakukan perbuatan yang melenceng dari ketaatan dan maksiat.

sebagai contoh, Dalam beberapa madzhab dalam Islam mempercayai bahwa Rasulullah Saw adalah seseorang yang maksum.

waalahu'alam.


















































Kamis, 22 Desember 2016

Apakah Ada Jalan Menuju Kesempurnaan?

- Tidak ada komentar
 
 
Para filosof sejak dulu mengatakan bahwa manusia adalah hewan yang berfikir. Mereka memahami bahwa esensi manusia tidak terlepas dari unsur hewaniah (kebinatangan) yang merupakan sisi persamaan antara manusia dengan jenis binatang lainnya, dan natiqiyah (pola fikir) yang membedakan mereka dari makhluk lainnya. Berdasarkan ini, para filosof menyimpulkan bahwa dalam waktu yang sama manusia adalah manusia (yang memikul unsur-unsur kemanusiaan) dan binatang (yang memiliki unsur-unsur kebinatangan).karena, manusia adalah hewan yang berpikir.

Di sisi lain, para teolog berpendapat bahwa manusia adalah eksistensi yang memiliki dimensi akal dan tabiat (potensi) seperti ghadab (marah), syahwat, dan hawa nafsu. Yang dengan kolaborasi kedua dimensi tersebut, manusia bisa melejit ke puncak kesempurnaannya yaitu kemanusiaannya, atau sebaliknya mendarat di dasar kehinaannya yaitu kebinatangannya. Semuanya tergantung bagaimana mereka memahami dan memanfaatkan kedua dimensi ini.
Lantas bagaimana manusia memanfaatkan potensi yang dimilikinya agar sampai kepada kesempurnaannya dan terhindar dari lubang kehinaannya?. 
Jawaban atas pertanyaan ini sejak lama telah diajukan oleh sang pemimpin  spritual manusia setelah Nabi saw, yaitu Imam Ali as. Dalam salah satu perkataannya beliau menjelaskan, "Sesungguhnya Allah azza wa jalla memberi malaikat akal tanpa syahwat, dan memberi hewan (binatang) syahwat tanpa akal, dan memberi manusia akal dan syahwat. Barang siapa yang menjadikan akalnya pemimpin atas syahwatnya, maka dia lebih mulia dari malaikat. Dan barang siapa yang menjadikan syahwatnya pemimpin bagi akalnya, maka dia lebih hina dari binatang," 
Hadits ini dengan gamblang menjelaskan bahwa satu-satunya jalan agar manusia mampu mencapai kesempurnaan adalah dengan menjadikan akal sebagai pemimpin bagi potensi lain yang ada dalam dirinya. Yaitu menjadikan akal sebagai satu-satunya filter yang senantiasa mengontrol dan mengatur segala aktifitas potensi-potensi tersebut. Dengan demikian, segala aktifitas dan perilaku manusia akan sesuai dengan akalnya. 
Dalam kumpulan Sya'irnya Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan,
Paling utama pemberian ar-Rahman kepada seseorang adalah akalnya
Kebaikan apapun tidak menyerupai keutamaannya
Jika Dia menyempurnakan akalnya
Maka sempurnalah akhlak dan budi pekertinya
Kesempurnaan akal menghiasi seorang pemuda di sosialnya
Meski dia kekurangan dalam pendapatannya.
Hinalah sosial orang yang kurang akalnya
Meski keturunan dan kedudukan membesarkannya.
Namun, jika manusia lebih mengutamakan potensi lain (seperti syahwat) dari akalnya, maka dia akan terjatuh ke dasar kehinaannya. Hal ini karena akal yang seharusnya menjadi filter  dalam setiap aktifitasnya, malah menjadi mesin penghasil yang menunjang kerakusan syahwat dan kehausan hawa nafsunya. 
Konsekuensi logisnya, kehidupan mereka akan senantiasa diwarnai dengan akhlak dan budi pekerti yang buruk dan tercela. Hal ini, karena  kelaziman pertama dari mengikuti hawa nafsu dan syahwat yang ditunjang oleh kecerdasan akal adalah lahirnya sifat-sifat tercela seperti rakus, pemarah, hasut, iri dan dengki, munafik, dan sifat-sifa tercela lainnya yang mengantarkan mereka ke lubang kehinaan.
Karenanya, al-Imam as menegaskan, " barang siapa yang menjadikan syahwatnya pemimpin dalam jiwanya, maka dia lebih hina dari binatang."
Berdasarkan hal di atas, jelaslah bahwa faktor utama kesempurnaan seseorang terdapat dalam dirinya, begitu juga sebaliknnya. Tinggal bagaimana dia memanfaatkan dan mengoperasikan faktor tersebut, apakah dioperasikan kejalan kesempurnaan, atau sebaliknya. wallahuallam.

Selasa, 20 Desember 2016

Hikmah ahlul bait : Belajar Dari Imam Ja’far yang Menguasai berbagai macam Bahasa.

- Tidak ada komentar


Seberapa pentingkah menguasai Bahasa asing? 

Bahasa adalah suatu pengantar komunikasi antara suatu individu dengan individu lainnya. Macam – macam alat komunikasi dan manfaatnya salah satunya adalah bahasa. Bahasa sangat penting untuk dapat mengetahui maksud dan tujuan orang lain. Dengan demikian, kita akan langsung merasakan manfaat yang luar biasa jika mampu menguasai Bahasa tertentu. 

Poliglotisme adalah kemampuan menuturkan beberapa bahasa dengan sangat mahir. Belum ada kesepakatan mengenai berapa banyak bahasa yang harus dikuasai seseorang agar bisa disebut poliglot. Ada yang menetapkan "empat atau lebih", karena penutur dua atau tiga bahasa biasanya disebut dwibahasa (bilingual) dan tribahasa (trilingual). Istilah multibahasa juga mirip dengan poliglot.

Ahli bahasa Richard Hudson memakai kata "hiperpoliglot" untuk menyebut orang yang fasih berbicara dalam enam bahasa atau lebih.

Mari kita belajar dari imam Ja’far Shadiq AS, tertulis didalam sejarah bahwa Beliau As mampu menguasai beberapa Bahasa di zamannya.

RIWAYAT TENTANG IMAM JA’FAR SHADIQ YANG MENGUASAI BEBERAPA BAHASA

Kita sudah mengetahui bahwa nenek dari imam Ja’far Shadiq AS atau ibunda dari imam Zainal Abidin Bin Alhusain As adalah seorang putri raja dari Persia, siapa lagi kalau bukan  putri Syahr Banu, putri Yazdgard-raja terakhir kerajaan Syasyani di Persia. Oleh karena itu, tidak heran jika imam Ja’far Shadiq As mampu menguasai Bahasa farsi dengan sangat fasih. Hal ini dibuktikan dengan beberapa riwayat tentang itu, diantaranya :

Diriwayatkan dari Abu bashir, ia berkata,’aku pernah berada disamping Abu Abdillah As (Panggilan Imam Ja’far As) , dan disamping beliau terdapat orang-orang yang berasal dari Khurasan, dan beliau As berbicara dengan mereka dengan Bahasa yang tidak aku mengerti’.

Diriwayatkan, ada sekelompok orang dari khurasan, Persia datang menghadap imam Ja’far As, kemudian beliau As memulai percakapan dengan Bahasa Arab , “barang siapa yang terlalu suka menumpuk-numpukkan harta dan terlalu menjaganya, maka Allah akan menghukuminya sesuai ukurannya”. Merekapun menjawab dangan Bahasa Farsi, mereka tak mampu berbicara dengan Bahasa arab. Sehingga imam As berbicara dengan Bahasa farsi “هركه درم انذو زدجزايس ذو زج باشد

Bahkan, murid-murid imam Shadiq As adalah orang-orang arab dan beberapa diantaranya berasal dari luar arab dengan kemampuan Bahasa yang berbeda-beda, Beliau As mampu berbicara dan menjelaskan pelajaran  terhadap murid-muridnya sesuai dengan Bahasa mereka masing-masing,
Diriwayatkan dari Aban bin Taghlab, ia berkata,’aku berada di kota Madinah dan ingin berjumpa dengan imam Shadiq As, dan ketika aku mendekati pintu rumah beliau As, aku menjumpai orang-orang yang tidak terlalu kukenal, mereka berkata.” Kami baru saja menjumpai imam As dan beliau menyampaikan hadist kepada kami, dan beliau berbicara dengan lima belas orang diantaranya dengan bahasa yang berbeda-beda, yaitu dengan Bahasa Persia, bahasa arab,  Bahasa dari Abyssinia, dan Bahasa slavia.
    
Sebagian dari merekapun berkata,” hadist apa yang ia ajarkan ini”. Mereka yang berasal dari arabpun menjawab, “Beliau As menyampaikan dengan Bahasa arab”. Orang Persia pun menjawab,”kami tidak paham, lalu beliau As menyampaikan dengan Bahasa farsi”. Lalu yang berasal dari negeri abyssiniapun menjawab,’beliau As menyampaikan dengan Bahasa dari Abyssinia”.

Akhirnya mereka memutuskan kembali untuk menghadap Imam As dan menanyakan hal ini, maka imam Ja’far As menjawab, “hadistnya tetap satu, namun aku menjelaskan kepada kalian sesuai Bahasa masing-masing”.
 Konon, Imam ja’far Shadiq As juga menguasai Bahasa lainnya, seperti Bahasa Ibrani. kedudukan beliau sebagai imam adalah mampu menguasai berbagai macam bahasa dan mampu menjelaskan kepada umatnya di zaman itu.

kita dapat mengambil pelajaran, bahwa betapa pentingnya menguasai bahasa tertentu, tentu manfaatnya selain untuk berkomunikasi dan mendapatkan teman baru, kita juga bisa membuka khazanah dan pintu-pintu ilmu baru. sebagaimana yang dilakukan imam As tadi, keren kan?

yuk, belajar dari Imam Shadiq As.


Rujukan :
1. بصائر الدرجات. juz 7 dan 8, bab : 11 dan 12, hal : 96, 68.\
2.  hal 325. الاختصاص